Minggu (Sunday), September 10, 2000

Billy Boy
Dari Rock ke Jazz

Nama Billy Sheehan bisa jadi barang baru untuk dunia jazz. Namun, di blantika musik rock nama bassis jangkung yang kerap dijuluki Billy Boy itu begitu masyhur dan bahkan dia menjadi senior bagi para bassis. Siapakah Billy Boy sebenarnya?

Billy Boy bukanlah sekadar bassis grup rock kondang akhir 1980-an, Mr. Big. Dia juga penggagas terbentuknya grup jazz Niacin, bersama-sama dua rekannya yang tentu sudah tak asing lagi: Dennis Chambers (drum) dan John Novello (kibor).

Bukan sesuatu yang mengherankan jika Billy banting stir ke dunia jazz, sebab di amenganggap segala jenis musik adalah baik, patut ditelusuri sekaligus dipelajari.

“Lagipula seorang musisi yang baik haru smampu memainkan segala jenis musik. Mereka tak boleh hanya terpaku pada satu jensi saja, seolah melupakan jenis musik lainnya,”

kata Billy Boy keapda saya, beberapa bulan silam, di suatu kesempatan istimewa.

Ironisnya, banyak musisi yang gandrung pada musik yang mereka mainkan dan menghina habis-habisan musik jenis lain.

“Itu sungguh tak masuk akal. Seorang musisi tak boleh berbuat seperti itu,”

tegas Billy Boy.

Billy Boy memang tipikal bassis yang haus ilmu. I atak segan-segan berguru pada dua rekannya yang sama-sama senior, Chamber dan Novello. Bahkan demi menambah pengetahuannya tentang musik jazz, laki-laki berambut pirang itu banyak-banyak membaca literatur jazz. Surfing di berbagai situs di depan layar komputer pun di alakoni dengan sabar.

Tak hanya itu, Billy Boy juga menyempatkan diri “main” ke berbagai negara yang musik tradisionalnya begitu kental. Beberapa negara di Afrika, Jepang, dan bahkan Indonesia sudah bolak-balik dikunjunginya.

Untuk Indonesia, Billy Boy mengaku begitu terpesona akan beragamnya musik tradisional. Musik khas Indonesia yang paling dia gemari adalah musik tradisional Bali. Gending-gending Jawa pun masuk dalam daftar koleksi kaset dan CD-nya. Sekitar 10 % dari total keseluruhan kaset dan CD-nya yang mencapai ribuah buah adalah hasil perburuannya di Indonesia. Perburuan itu sebagian besar dilakukan saat dia dan Mr. Big –ataupun Niacin– manggung di Indonesia.

Apa tujuan Billy Boy mencari rekaman-rekaman tradisional? Ternyata jawabannya sederhana saja. Jazz membutuhkan banyak eksplorasi, inovasi, dan improvisasi. Bagaimana mungkin musikk jazz yang dia dan Niacin hasilkan akan berkualitas jika dia tak memiliki banyak pengetahuan soal musik jenis lain? Bukankah pembaharuan, penggalian budaya, dan pengembangan bisa bisa dengan mudah diperoleh dengan mempelajari musik tradisional?

Kembali ke personal, Billy adalah bassis andal. Dia bisa dengan mudah merubah-rubah style permainannya. Awal kariernya sebagai bassis dimuali saat dia bergabung dengan band Talas. Bersama Talas, dia sempat menelurkan tiga album. Keunikan pribadi Billy membuat David Lee Roth jatuh hati. Mantan vokalis Van Halen itu serta-merta merekrutnya, dan mereka sukses membuat dua album yang semuanya memperoleh sertifikat platinum.

Pada 1989, Billy Boy masuk dalam daftar line-up Mr. Big. Album perdana grup ini mencapai angka penjualan di atas 6 juta keping.

Bersama Niacin, kualitas Billy makin diakui. Tiga album jazz bertajuk Niaicn (1997), High Bias (1998), dan Deep (2000) menjadi saksi bisu kehebatan Billy Boy. (Nadine aka. Dini Zaki)

_______________________________________________
English version

Billy Boy
From Rock to Jazz

Billy Sheehan maybe a freshman in jazz industry, but for the lovers of rock the bassist who is also known as Billy Boy is very famous and he even becomes the senior for young bassists around the world. Who is Billy Boy actually?

Billy Boy is not merely the late 1980s famous rock band, Mr. Big. He is also the founder of jazz band Niacin, along with his two pals: Dennis Chambers (drums) and John Novello (keyboard).

It is not a wondering one if Billy decided to taste jazz world, for he thought every kind of music is good, it must be explored and learned.

“Moreover, a good musician should be able to play any kind of music. They should not choose one music style only and forget other styles,”

said Billy to me, long time ago, in a lovely occasion.

Ironically, there are many musicians who is fanatic with their music and insult other music extremely.

“That doesn’t make sense. A musician should not do that,”

Billy told.

Billy is a bassist who is always “thirsty” of knowledge. He won’t feel ashamed to learn from his two mates Chambers and Novello. He even always reads jazz literature in order to improve his ability in jazz. Surfing on internet he does patiently also.

Billy also tries to visit other countries which still have traditional music. Some countries in Africa, Japan, and even Indonesia have been visited many times.

For Indonesia, Billy said he loves the varieties of Indonesian traditional music. Indonesian traditional music that he loves most is Balinese music. Javanese instrumental music also becomes the collection of his cassettes and CDs.

What is the aim of Billy finding the traditional record? It’s a simple answer. Jazz needs exploration, inovation, and improvement. So, how can he –and Niacin– produce the qualified music if he himself does not have knowledge about other music? Exploration, inovation, and improvement can be found easily by learning traditional music, right?

Back to personal, Billy is a huge and great bassist. He can easily change his style. His first carreer happened when he became the member of Talas band. With Talas, he has produced three records.

In 1989, Billy became the member of Mr. Big. The first record of this band had been sold for more than 6 million copies.

With Niacin, the quality of Billy is getting better. Three jazz albums had been released, Niacin (1997), High Bias (1998), and Deep (2000). (Nadine aka. Dini Zaki)